Rabu, 14 Desember 2011

Makalah Ilmu Kalam

A.  Pendahuluan
Ilmu kalam adalah salah satu dari empat disiplin keilmuan yang telah tumbuh dan menjadi bagian dari tradisi kajian agama Islam. Ilmu kalam yang mengarahkan pembahasannya kepada segi-segi mengenai ke-Tuhanan dan berbagai derivasinya. Oleh karena itu, maka sering disebut sebagai ilmu Teologi. Ilmu kalam tumbuh dan berkembang pada beberapa abad setelah wafat Nabi saw sampai pada peristiwa pembunuhan Ustman Ibn Affan. Dimana peristiwa itu adalah suatu peristiwa yang sangat menyedihkan dan menghebohkan dalam sejarah dunia Islam. Oleh karena itu, peristiwa itu sering disebut dengan al-Fitnah al-Kubra (the biggest of slander). Dan dari sanalah timbulnya berbagai permasalahan dalam dunia Islam, khususnya bidang politik, sosial, dan paham keagamaan. Termasuk juga ilmu kalam, pertama kali munculnya pada saat terjadinya peristiwa tersebut.
Oleh karena itu, dalam pembahasan tentang ilmu kalam. Kami mencoba menjelaskan berbagai masalah mengenai ilmu kalam yang meliputi: definisi, ruang lingkup, sejarah, aliran-aliran dan tokoh-tokoh serta doktrin dari aliran tersebut.

B.  Definisi
Teologi Islam merupakan istilah lain dari ilmu kalam, yang diambil dari bahasa inggris, theology.William L. Reese mendefinisikannya dengan discourse or reason concerning God (pemikiran tentang Tuhan). Dengan mengutip kata-kata William Ockham, Reese lebih jauh mengatakan, “Theology to be a discipline resting on revealed truth and independent of both philosophy and sciense,” (Teologi merupakan disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan). Semetara itu, Gove menyatakan bahwa teologi adalah penjelasan tentang keimanan, perbuatan, dan pengalaman agama secara rasional.
Al-Farabi mendefinisikan ilmu kalam sebagai berikut: “ Ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang membahas Dzat dan sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin Islam. Stressing akhirnya adalah memproduksi ilmu ketuhanan secara filosofis.”
Sementara itu, Ibnu Kaldun mendefinisikan ilmu kalam sebagai berikut: “Ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imani yang diperkuat dalil-dalil rasional.”
Jadi, ilmu kalam merupakan ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika atau filsafat.
C.  Ruang Lingkup
Adapun Ruang Lingkup Pembahasan dari Teology Islam (Ilmu Kalam) itu adalah
1.      Ilahiyyaat yaitu masalah ketuhanan, membicarakan masalah:
a.    Dzat Tuhan
b.    Nama dan sifat Tuhan
c.    Perbuatan Tuhan.
2.      Annubuwwaat yaitu masalah kenabiyan, membicarakan masalah:
a.    Kemukjizatan nabi-nabi
b.    Nabi-nabi terakhir
3.      Assam’iyyaat yaitu hal-hal yang tak mungkin kita ketahui melainkan ada informasi dari nabi, yaitu berbicara masalah wahyu. Meliputi:
a.    Masalah azab kubur
b.    Neraka
c.    Surga
d.   Dsb. Semua hal-hal yang tidak akan pernah kita ketahui kecuali ada berita dari para nabi dan RasulNya.

D.  Sejarah
Setelah Rasulullah saw wafat, kepemimpinan dijabat oleh para khalifah yaitu Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Ustman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib. Keempat khalifah tersebut yang telah membantu Nabi Muhammad dalam memperluas agama Islam dan wilayah Islam. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar tidak sedikit umat Islam yang keluar dari agama Islam. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Abu Bakar berhasil memberantas umat-umat yang murtad. Sepeninggal Abu Bakar (13H/634M), kekhalifahan dilanjutkan oleh Umar ibn Khattab atas ditunjukkan oleh Abu Bakar dan disetujui oleh sahabat. Pada masa kepemimpinan Umar, Islam mengalami perkembangan pesat dengan kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Umar. Kemudian, sepeninggalnya Umar kekhalifahan diganti oleh Usman ibn Affan. Pada masa kekhalifahan Usmanlah, Islam mengalami perubahan. Dimana pada masa Usman, dalam hal politik hanya kaum/saudara Usmanlah yang bisa menjadi penjabat. Pada masa kekhalifahan Usman, Usman menerapkan kebijakan-kebijakan yang bersifat KKN. Tak heran bila umat Islam merasa tidak senang dengan kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Usman.
Sepeninggal Usman, umat yang pro Ali kemudian mengangkat Ali sebagai khalifah yang keempat. Pada masa kekhalifahan Ali lah timbul beberapa gerakan yang menentang kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib. Hal ini dikarenakan peristiwa yang terjadi atas kasus pembunuhan Usman yang akhirnya timbul gerakan Mu’awiyah yang dipimpin oleh Muawwiyah bin Abu sufyan. Bahkan Muawwiyah menolak membai’at Ali meskipun merekan mengakui kesenioran Ali. Pada masa kekhalifahan Ali, terjadi perang antara Mu’awiyah dengan pengikut Ali dalam perang Shiffin.
Perang Shiffin yang terjadi pada tahun 37 H membuat kelompok Mu’awiyah mengangkat al-Quran sebagai tanda damai dengan cara tahkim. Peperangan Shiffin yang berakhir tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah. Akibat dari tahkim ini membuat pengikut Ali terpecah menjadi dua kelompok yaitu kelompok khawarij (kelompok yang keluar dari pengikut Ali) dan kelompok Syi’ah (kelompok yang setia kepada Ali). Peristiwa inilah yang menyebabkan munculnya ilmu kalam pertama kali tentang persoalan siapa yanag kafir dan siapa yang tidak kafir atau siapa yang keluar dari islam dan siapa yang tidak. Khawarij beranggapan bahwa orang-orang yang terlibat dalam tahkim tersebut seperti Ali, Mu’awiyah, Amr bin Al-Ash, Abu Musa al-asy’ari dan lain-lainnya adalah kafir.
Persoalan kafir atau tidaknya telah menimbulkan tiga aliran dalam teologi islam, yaitu:
1.    Aliran Khawarij, bagi mereka orang yang Islam yang melakukan dosa besar termasuk kafir, dalam arti telah keluar dari Islam, atau tegasnya murtad dan wajib dibunuh.
2.    Aliran Murji’ah, bagi mereka selama seorang muslim menyakini kalimat syahadat, orang muslim yang berbuat dosa besar tidak tergolong kafir. Hukuman terhadap perbuatan ini ditangguhkan di akhirat dan hanya Allah yang berhak menghukumnya.
3.    Aliran Mu’tazilah, bagi mereka orang yang berdosa besar bukan orang kafir, tetapi bukan pula mukmin. Mereka mengambil posisi antara mukmin dan kafir, yang dalam bahasa Arabnya terkenal dengan istilah al-manzilah manzilatain (posisi diantara dua posisi).
Dari pembahasan di atas, persoalan pertama timbul adalah di dalam bidang politik, bukan bidang teologi. Tetapi lama-kelamaan bidang politik ini meningkat menjadi persoalan teologi. Tiimbullah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam Islam, sehingga timbullah aliran teologi di atas.
Selain aliran teologi di atas, dalam islam ada pula aliran teologi lain seperti aliran Qadariyah, Jabariyah, syiah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan lain-lain.
Aliran-aliran Khawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi kecuali dalam sejarah. Adapun yang masih ada sampai sekarang adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah
Yang keduanya disebut Ahlussunnah wal-jama’ah.

E.  Tokoh-Tokoh Dalam Ilmu Kalam beserta Doktrin-Doktrinnya

1.    Aliran Khawarij
a.    Tokoh (golongan) Khawarij
1)      Golongan al-Muhakkimah al-Ula
Golongan ini adalah aliran khawarij yang pertama dan asal mulanya merupakan pengikut Ali, disebut demikian karena ketika menolak tahkim, mereka menyatakan: “Laa hukma illa lillah” (tiada hukum diluar hukum Allah). Berdasarkan aliran ini mereka menyalahkan dan bahkan mengkafirkan semua orang termasuk Ali, yang Mu’awiyah, ‘Amr ibn Ash dan Abu Musa al-Asy’ari yang terlibat dalam peristiwa arbitrase tersebut. Ajaran tentang pengkafiran ini, pada akhirnya meluas terhadap setiap pelaku dosa besar yang dilakukan oleh seorang muslim, misalnya: zina, membunuh, dan lain-lain.
2)      Golongan al-Azariqah
Golongan al-Azariqah adalah aliran khawarij yang paling ekstrim yang dipimpin oleh Abi Rasyid Nafi ibn al-Azraq, yang terbunuh 60 H dalam pertempuran dengan pasukan Abdullah ibn Zubair di Uhqaz (irak) dan alirannya dihancurkan oleh bani Umayah di zaman al-Hajjaj. Golongan ini adalah golongan yang terkuat dan memiliki banyak pengikut.
Adapun ajarannya yang paling menonjol adalah pelaku dosa besar itu bukan saja kafir, tetapi juga musyrik. Orang Islam yang sepaham dengannya kalau tidak mau hijrah ke dalam lingkungannya, maka disebut juga musyrik.
3)      Golongan al-Najdah
Aliran ini dinisbahkan kepada pemimpinnya, yaitu Najdah ibn Amir al-Hanafi dari Yamamah, yang membelot dari aliran Azariqah karena tidak sepaham dengan ajarannya. Ajaran dalam aliran ini yang paling menonjol adalah jika aliran yang lain tidak memandang ijtihad sebagai sumber hukum Islam, seperti tidak wajib merajam pezina karena tidak ada ayat yang menyebutkan demikian, maka Najdah sebaliknya. Dalam hal perbuatan dosa, mereka beranggapan bahwa orang yang melakukan dosa kecil secara terus menerus pun adalah musyrik. Tetapi jika orang Najdah yang melakukan dosa besar namun tidak terus menerus tidaklah musyrik.
4)      Golongan al-Ajaridah
Aliran ini merupakan pecahan dari aliran Najdah, yang termasuk moderat (lunak). Sehingga mereka tidak mewajibkan umat Islam harus berhijrah ke wilayah yang dikuasai mereka, seperti halnya aliran Najdah dan Azariqah. Bagi mereka yang berhijrah atau menjadi pengikut aliran mereka hanya merupakan sikap kebajikan bukan suatu kewajiban, sehingga bagi anggota ini boleh tidak tinggal di wilayah mereka dengan tanpa dicap kafir.
5)      Golongan al-Sufriah
Golongan ini adalah pengikut Abdullah ibnu Saffar. Mereka dinamakan demikian, karena wajah mereka pucat lantaran banyak beribadah malam. Dalam hal pemikirannya, mereka hampir sama dengan golongan al-Azariqah. Golongan ini termasuk kepada golongan yang ekstrim. Tapi ada hal-hal yang membuat golongan ini kurang ekstrim, diantaranya adalah terhadap orang Sufriah yang tidak berhijrah tidak dipandang kafir.
6)      Golongan al-Ibadliyah
Nama aliran ini dinisbahkan kata Ibadh, nama sebuah kampung yang terletak di dekat Yamamah. Pendiri adalah Abdullah ibn Ibadh al-Maqaisi. Doktrin keagamaannya yang paling moderat, bila dibandingkan aliran-aliran yanag lainnya, misalnya mereka menyatakan bahwa orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah musyrik dan bukan mukmin, tetapi kafir.

b.    Doktrin-Doktrinnya
Ø Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam
Ø Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab, setiap Muslim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat
Ø Khalifah dipilh secara permanen selama bersikap adil dan menjalankan syari’at islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakuka kezaliman.
Ø Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar, Utsman) adalah sah, tetapi setelah tahun ketujuh dari masa kekhalifahannya, Utsman di anggap meyeleweng.
Ø  Khalifah Ali, Muawiyah, dan Amr bin Al-Ash serta Abu Musa Al-Asy’ari yang terlibat tahkim adalah kafir
Ø Pasukan perang Jamal yang melawan Ali juga kafir
Ø Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh.
Ø Setiap Muslim harus brhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi.
Ø Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.
Ø Adanya wa’ad dan Wa’id (orang yang baik harus masuk syurga, sedangkan orang jahat masuk neraka)
Ø Amar ma’ruf nahi mungkar
Ø Memalingkan ayat-ayat al-Quran yang tampak mutasabihat (samar)
Ø Quran adalah makhluk
Ø Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan

2.    Aliran Murji’ah
a.    Tokoh-tokoh Murji’ah
1.      Al-Jahmiyah, pengikut Jahm bin Shufwan.
2.      Ash-Shalihiyah, pengikut Abu Musa Ash-Shalahi.
3.      Al-Yunushiyah, pengikut Yunus As-Samiry.
4.      As-Samriyah, pengikut Abu Samr dan Yunus.
5.      Asy-Syaubaniyah, pengikut Abu Syauban.
6.      Al-Ghailaniyah, pengikut Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Ad-Dimsaqy.
7.      An-Najjariyah, pengikut Al-Husain bin Muhammad An-Najr.
8.      Al-Hanafiah, pengikut Abu Hanifah An-Nu’man.
9.      Asy-Syabibiyah, pengikut Muhammad bin Syabib.
10.  Al-Mu’aziyah, pengikut Muadz Ath-Thaumi.
11.  Al-Murisiyah, pengikut basr Al-Murisy.
12.  Al-Karamiyah, pengikut Muhammad bin Karam As-Sijistany.

b.    Doktrin-Doktrinnya
Ø  Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash dan Abu Musa Al-Asy’ary yang terlibat tahkim yang menyerahkan kepada Allah di hari kiamat kelak.
Ø  Menyerahkan keputusan kepada Allah atas muslim yang berdosa besar.
Ø  Meletakkan (pentingnya) iman daripada amal.
Ø  Memberikan pengharapan kepada Muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.

3.    Aliran Mu’tazilah
a.    Tokoh-Tokoh Mu’tazilah
1.    Washil bin ‘Atha
Nama lengkapnya Washil bin ‘ Atha al Ghazzal, ia terkenal sebagai pendiri aliran Mu’tazilah yang pertama dan peletak lima besar ajaran Mu’tazilah.



2.    Abu Huzail al ‘Allaf
Nama lengkapnya adalah Abu Huzail Al’Allaf. Ia menjadi pemimpin aliran Mu’tazilah di basra. Ia mempelajari buku-buku yunani dan banyak terpengaruh dengan buku-buku itu karena dialah mu’tazilah mengalami kesesatan.
3.      Al Nazzam
4.      Abu Hasyim al Jubba’i (321 H/ 932 M) 
Al Jubba’i adalah tokoh besar terakhir dari kalangan Mu’tazilah. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Basrah. Ia belajar kepada ayahnya, kemudian memisahkan diri darinya, berbeda pendapat dengannya lalu mendirikan kelompok khusus. Ia hidup sezaman dengan al Farabi dan sebagian kaum paripatetik Arab dan terpengaruh mereka. Teorinya tentang al Ahwal (kondisi-konsisi), merupakan saksi terbaik yang membuktikan anggapan itu. Al Jubba’i berusaha untuk menolak sebagian teori kosmologi yang dikemukan oleh Aristoteles.
5.       Bisyr bin Al Mu’tamir (226 H/ 840 M)
Ia adalah pendiri aliran Mu’tazilah di Baghdad. Pandangan-pandangannya mengenai kesusasteraan, sebagaimana yang banyak dikutip oleh al Jahiz dalam bukunya “al Bayan wa al Tabyin”, menimbulkan dugaan bahwa dia adalah orang yang pertama-tama mengadakan ilmu Balaghah.
6.      Al Khayyat (303 H/ 925 M) 
Ia adalah Abu Husein al Khayyat, termasuk tokoh Mu’tazilah Baghdad dan pengarang buku ‘al Intisar’ yang dimaksudkan untuk membela aliran Mu’tazilah  dari serangan Ibnu al Rawandi. Ia hidup pada masa kemunduran aliran Mu’tazilah.
7.      Al Qadhi Abdul Jabbar (1024 M di Ray)
Ia juga hidup pada masa kemunduran aliran Mu’tazilah. Ia diangkat menjadi kepala hakim (qadhi al qudhat) oleh Ibnu ‘Abad. Di antara karangan-karangannya ialah ulasan tentang pokok-pokok ajaran aliran Mu’tazilah terdiri dari beberapa jilid, dan banyak dikutip oleh as Syarif al Murtadha. Buku tersebut sedang dalam penerbitan di Kairo dengan nama “al Mughni”.

8.      Az Zamakhsyari (467-538 H/ 1075-1144 M)
Namanya Jaar Allah Abul Qasim Muhammad bin Umar, kelahiran Zamakhsyar,    sebuah dusun di negeri Khawarazm (sebelah selatan lautan Qazwen), Iran. Sebutan Jaarullah yang  berarti tetangga Tuhan, dipakainya karena ia lama tinggal di Mekah dan bertempat  di sebuah rumah dekat Ka’bah. Selama hidupnya ia banyak mengadakan perlawatan, dari negeri kelahirannya menuju Baghdad, kemudian ke Mekkah untuk bertempat di sana beberapa tahun lamanya dan akhirnya ke Jurjan (Persi-Iran) dan di sana ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

b.    Doktrin-Doktrinya
1.    Al Tauhid
Tuhan dalam paham Mu’tazilah betul-betul Esa dan tidak ada sesuatu yang serupa denganNya. Ia menolak paham anthromorpisme (paham yang menggambarkan Tuhannya serupa dengan makhlukNya) dan juga menolak paham beatic vision (Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala) untuk menjaga kemurnian Kemahaesaan Tuhan, Mu’tazilah menolak sifat-sifat Tuhan yang mempunyai wujud sendiri di luar Zat Tuhan. Hal ini tidak berarti Tuhan tak diberi sifat, tetapi sifat-sifat itu tak terpisah dari ZatNya. Mu’tazilah membagi sifat Tuhan kepada dua golongan :
a.     Sifat-sifat yang merupakan esensi Tuhan, disebut sifat dzatiyah, seperti al   Wujud - al Qadim – al Hayy dan lain sebagainya
b.    Sifat-sifat yang merupakan perbuatan Tuhan, disebut juga dengan sifat fi’liyah yang mengandung arti hubungan antara Tuhan dengan makhlukNya, seperti al Iradah – Kalam – al Adl, dan lain-lain.
Kedua sifat tersebut tak terpisah atau berada di luar Zat Tuhan, Tuhan Berkehendak, Maha Kuasa dan sifat-sifat lainnya semuanya bersama dengan Zat. Jadi antara Zat dan sifat tidak terpisah.Pandangan tersebut mengandung unsur teori yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa : penggerak pertama adalah akal, sekaligus subyek yang berpikir.

2.  Al ‘Adl
Paham keadilan dimaksudkan untuk mensucikan Tuhan dari perbuatanNya. Hanya Tuhan lah yang berbuat adil, karena Tuhan tidak akan berbuat zalim, bahkan semua perbuatan Tuhan adalah baik. Untuk mengekspresikan kebaikan Tuhan, Mu’tazilah mengatakan bahwa wajib bagi Tuhan mendatangkan yang baik dan terbaik bagi manusia. Dari sini lah muncul paham al Shalah wa al Aslah yakni paham Lutf atau rahmat Tuhan. Tuhan wajib mencurahkan lutf bagi manusia, misalnya mengirim Nabi dan Rasul untuk membawa petunjuk bagi manusia.
Keadilan Tuhan menuntut kebebasan bagi manusia karena tidak ada artinya syari’ah dan pengutusan para Nabi dan Rasul kepada yang tidak mempunyai kebebasan. Karena itu dalam pandangan Mu’tazilah, manusia bebas menentukan perbuatannya.

3.   Al Wa’d wa al Wa’id (Janji dan Ancaman)
Ajaran ini merupakan kelanjutan dari keadilan Tuhan, Tuhan tidak disebut adil jika ia tidak memberi pahala kepada orang yang berbuat baik dan menghukum orang yang berbuat buruk, karena itulah yang dijanjikan oleh Tuhan. QS. Al Zalzalah ayat 7-8. Terjemahnya :“Barang siapa yang berbuat kebajikan seberat biji zarrah, niscaya dia akan lihat balasannya, dan barang siapa yang berbuat keburukan seberat biji zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”

4.    Manzilah Baina Manzilatain (Posisi di antara dua tempat)
Posisi menengah dalam ajaran Mu’tazilah di tempati oleh orang-orang Islam yang berbuat dosa besar. Pembuat dosa besar bukan kafir karena masih percaya kepada Tuhan dan Nabi Muhammad saw, tetapi tidak juga dapat dikatakan mukmin karena imannya tidak lagi sempurna, maka inilah sebenarnya keadilan (menempatkan sesuatu pada tempatnya), akan tetapi di akhirat hanya ada syurga dan neraka, maka tempat bagi orang-orang yang berbuat dosa adalah di neraka, hanya saja tidak sama dengan orang-orang kafir sebab Tuhan tidak adil jika siksaannya sama dengan orang kafir. Jadi lebih ringan dari orang kafir.

5.     Amar Ma’ruf , Nahi Munkar.
Perintah berbuat baik dan mencegah kemungkaran adalah suatu kebajikan bagi semua umat Islam. Seruan amar ma’ruf nahi munkar bisa dilakukan dengan hati, tetapi jika memungkinkan dapat dilakukan dengan seruan bahkan dengan tangan dan pedang. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi yang artinya :“Barang siapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hati, itulah serendah-rendahnya iman”.
4.    Aliran Syi’ah
a.       Tokoh (golongan) Syi’ah
1)   Syi’ah Itsna Asyariyah (syi’ah duabelas)
Syi’ah ini sepakat bahwa Ali adalah penerima wasiat Nabi Muhammad seperti yang ditunjukkan nash. Adapun Al-ausiya (penerima wasiat) setelah Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husen bin Ali sebagaimana disepakati. Setelah Husen adalah Ali Zaenal Abidin, kemudian secara berturut-turut: Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far Ash-Shadiq, Musa Al-Kahzim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari dan terakhir adalah Muhammad Al-Mahdi sebagai imam kedua belas.
Doktrin-doktrinnya adalah:Tauhid, Keadilan, Nubuwwah, Ma’ad, Imamah
2)   Syi’ah Sab’iyah
Istilah Syi’ah Sab’iyah (tujuh) dianologikan dengan Syi’ah Itsna Asyariyah. Istilah ini memberikan pengertian bahwa sekte Syi’ah Sab’iyah hanya mengakui tujuh imam, yaitu: Ali, Hasan, Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, dan Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq.
Doktrin-doktrinnya adalah: mengenai Imamah.
3)   Syi’ah Zaidiyah
Disebut Zaidiyah karena sekte ini mengakui Zaid bin Ali sebagai imam kelima, putra imam keempat, Ali Zainal Abidin. Kelompok ini berbeda dengan sekte Syi’ah yang mengakui Muhammad Al-Baqir, putra Zainal Abidin yang lain, sebagai imam kelima. Dari mana Zaid bin Ali inilah, nama Zaidiyah diambil. Syi’ah Zaidiyah merupakan sekte Syi’ah yang moderat.
Doktrin-doktrinnya adalah: Iman, Taharah, Salat, Zakat, Saum, Haji, dan Jihad.
4)   Syi’ah Ghulat
Syi’ah Ghulat adalah kelompok pendukung Ali yang memiliki sikap berlebih lebihan atau ekstrim. Lebih jauh, Abu Zahrah menjelaskan bahwa Syi’ah ekstrim (ghulat) adalah kelompok yang menempatkan Ali pada derajat Ketuhanan, dan ada yang mengangkat pada derajat kenabian, bahkan lebih tinggi daripada Muhammad.
Doktrin-doktrinnya adalah: Bada’, Raj’ah, Tasbih, Hulul, dan Ghayba.

5.    Aliran Jabariyah
a.       Tokoh Aliran Jabariyah ekstrim
1)      Ja’d bin Dirham
Al-Ja’d adalah seorang Maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan teologi. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan di lingkungan pemerintah Bani Umayyah, tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang kontroversial, Bani Umayyah menolaknya.

Doktrin-doktrinnya adalah:
Ø Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa
Ø Syurga dan neraka tidak kekal
Ø Iman adalah ma’rifah atau membenarkan dalam hati
Ø Kalam Tuhan adalah makhluk
2)   Jahm bin Shafwan
Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan. Ia berasal dari Khurasan, bertempat tinggal di kufah; ia seorang da’i yang fasih dan lincah. Ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais, seorang Mawali yang menentang pemerintah Bani Umayyah di Khurasan. Ia ditawan kemudian dibunuh secara politis tanpa ada kaitannya dengan agama.
Doktrin-doktrinnya adalah:
Ø Al-Quran itu adalah makhluk
Ø Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk
Ø Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.

b.      Tokoh aliran Jabariyah Moderat
1)   An-Najjar
Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar (wafat 230 H). Para pengikutnya disebut An-Najjariyah atau Al-Husainiyah.
Doktrin-doktrinnya adalah:
Ø Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.
Ø Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi, An-Najjar menyatakan bahwa Tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan.
2)   Adh-Dhihar
Nama lengkapnya adalah Dhihar bin Amr. Pendapat tentang perbuatan manusia sama dengan Husein An-Najjar, manusia mempunyai bagian dalam perwujudan perbuatannya dan tidak semata-mata dipaksa dalam melakukan perbuatannya. Mengenai ru’yat di akhirat, Dhihar mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat melalui indera keenam.

6.    Aliran Qadariyah
a.    Tokoh Qadariyah
Kapan Qadariyah muncul dan siapa tokoh-tokohnya? Merupakan dua tema yang masih diperdebatkan. Ada ahli teologi  yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama  kali muncul oleh Ma’bad Al-Jauhani dan Ghailan Ad-Dimasqy.
b.    Doktrin-doktrinnya
Doktrin aliran Qadariyah adalah: menyatakan bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikannya dan juga berhak memperoleh hukuman atas kejahatannya.

7.    Aliran Maturidiyah
Aliran Maturidiyah dipelopori oleh Abu Manshur Al-Maturidi. Dilahirkan di Maturid, sebuah kota kecil di daerah Samarkand. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 Hijriah.Ia wafat pada tahun 333 H / 944 M.
Doktrin-doktrin teologi Al-Maturidi mengenai: akal dan wahyu, perbuatan manusia, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, sifat Tuhan, Melihat Tuhan, Kalam Tuhan, pengutusan Rasul, dan pelaku dosa besar.

8.    Aliran Al-Asy’ariyah
`Aliran ini dipelopori oleh Al-Asy’ari, nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim Isma’il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari. Menurut beberapa riwayat, Al-Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H/875 M. Ketika berusia kurang lebih dari 40 tahun, ia hijriah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun 324 H/935M.
Doktrin-doktrin teologi Al-Asy’ari mengenai: Tuhan dan sifat-sifat-Nya, kebebasan dalam berkehendak, akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk, qadimnya al-Quran, melihat Allah, keadilan, dan kdudukan orang berdosa.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rozak, Rosihin Anwar, Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2001.
Harun Nasution, Teologi Islam, Jakarta: UI Press, 2009.
Muchtar, Ghazali. A, Perkembangan Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2003
Toto Edidarmo, Muliadi, Akidah Akhlak Madrasah Aliyah, Semarang: Karya Toha Putra, 2008.

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar